Proses Belajar Mengajar

Materi                         : IPA Tema 8 Kelas V Semester Genap

Pembelajaran             : Percobaan Penjernihan Air

Alat dan Bahan          : Botol Air Mineral Ukuran, 1.5 Liter, Kerikil, Arang, Sabut Kelapa/Ijuk, Spon, Baskom

Hari/Tagl                   : Jumat, 13 April 2018

Guru Pembelajar       : I Gusti Ayu Ari Nuratih, S.Pd.M.Pd.

Tujuan                       : Peserta Didik dapat mengetahui teknologi sederhana penjernihan air.

Manfaat                   : Mengetahui pentingnya ketersediaan air bersih, peserta didik dapat menghemat penggunaan air bersih, untuk menanggulangi kelangkaan air bersih.

Dokumentasi :

             

Materi                         : IPA Tema 8 Kelas V Semester Genap

Pembelajaran             : Percobaan Mengetahui Siklus Air Secara Sederhana

Alat dan Bahan          : Botol Kaca, Mangkok Kaca, Baskom, Es batu, Sinar Matahari

Hari/Tagl                   : Selasa, 10 April 2018

Guru Pembelajar       : I Gusti Ayu Ari Nuratih, S.Pd.M.Pd.

Tujuan                       : Peserta Didik dapat membuktikan adanya evaporasi oleh sinar matahari  es batu yang ada di dalam mangkok. Dimana setelah terkena matahari es batu akan mencair  karena perbedaan suhu di dalam mangkok dan di luar mangkok, maka terjadi proses pengembunan ditandai dengan adanya titik-titik air di luar mangkok. Setelah titik-titik air di dinding luar amngkok jenuh, maka jatuhlah titik-titik air tersebut ke dalam botol air dan juga baskom sebagai alas botol. Proses tersebut disebut dengan presipitasi jatuhnya titik air hujan ke permukaan bumi.

Dokumentasi :

        

Pembelajaran : Pendidikan Agama Hindu

Peserta Didik melakukan persembahyangan bersama sebelum pembelajaran dimulai

 

 

 

Mengembangkan Budaya Literasi untuk mewujudkan generasi Sarasnam yang literat.

Pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti

Pada aspek Psikomotorik peserta didik diajak praktek membuat KlakatAgama Hindu dikenal sebagai agama yang memiliki banyak upacara. Keberadaan upacara di Bali, juga tidak lepas dari adanya sarana upacara, dan salah satunya adalah Klakat.  Klakat yang terbuat dari anyaman bambu sedemikian rupa ini, terdiri dari beberapa jenis dan memiliki banyak manfaat dalam upacara Hindu. Anyaman bambu berbentuk segi empat (bujur sangkar) ini, ukurannya pun bervariasi sesuai dengan kebutuhan upacara yang akan dilangsungkan. “Pada Klakat terdapat lubang-lubang berbentuk segi empat. Adapun jumlah lubang pada Klakat Pancak yaitu 25 buah,  secara vertikal lima buah dan secara horizontal lima buah, Pancak berasal dari kata Panca yang dalam istilah Bali berarti lima. Lima ini merupakan jumlah lubang klakat secara vertikal dan horizontal. Kata Panca , lanjutnya,  merupakan simbol Panca Mahabutha. Panca Mahabutha adalah lima unsur elemen atau zat dasar yang membentuk lapisan mahluk hidup, termasuk badan manusia (sarira kosha) yang sesuai dengan hukum rta. Panca Mahabutha juga merupakan kekuatan prakerti (acetana) yang merupakan salah satu kekuatan pendorong dari korban suci (Yadnya) kehadapan Ida Sang Hyang Widi Wasa. Pada konteks ini, Ida Sang Hyang Widi Wasa merupakan simbol kekuatan purusa (cetana). Semua itu bertujuan untuk mempercepat proses penyatuan antara Sang Pencipta dengan mahluk hidup ciptaan-Nya. Biasanya Klakat Pancak ini digunakan sebagai alas suatu upakara (banten), yakni sebagai alas upakara caru, sebagi alas upakara saji, dan sebagai komponen dasar pembuatan Sanggah Cucuk. Selain Klakat Pancak, dalam sarana upakara hindu juga dikenal yang namanya Klakat Sudhamala. Klakat ini juga terbuat dari bambu dan berbentuk segi empat bujur sangkar. Namun, pada bagian tengahnya tidak seperti Klakat Pancak yang berbentuk kotak-kotak dan memakai tangkai.

Ukuran bambu yang dugunakan untuk membuat Klakat Sudhamala adalah 10 hingga 15 cm dan menggunakan bahan tiying kuning (bambu yang sudah tua dan kuning). “Segala jenis pembuatan sarana upakara, salah satunya Klakat ini harus menggunakan bahan yang sukla (suci),  barang baru atau tidak pernah digunakan sebelumnya,” ujar pria berusia 74 tahun ini.
Klakat Sudhamala dibuat dengan konsep Purusha dan Prakerti, sehingga terdiri atas dua jenis, yaitu laki-laki dan perempuan. Klakat Sudhamala yang laki-laki pada lubang tengahnya terdapat tanda silang. Adapun tanda silang tersebut mengandung simbol Swastika yang berarti empat kemahakuasaan Sang Hyang Widi yang disebut Cadhu Sakti, yakni empat kesaktian atau kekuatan atau kemahakuasaan Ida Sang Hyang Widhi. Empat kesaktian atau kekuatan tersebut adalah Wibhu Sakti, yaitu Sang Hyang Widi Mahabesar. Sadu Sakti, yaitu Sang Hyang Widi Mahaada. Jnana Sakti ( Sang Hyang Widi Mahatahu), dan Krya Sakti, yakni Sang Hyang Widi Mahakerja. Sedangkan untuk Klakat Sudhamala yang perempuan hanya terdapat lubang dengan tepian delapan sudut (segi delapan). Sudut delapan merupakan simbol delapan Kemahamuliaan Sang Hyang Widi (Asta Aiswarya) Delapan Kemahamuliaan Sang Hyang Widi terdiri atas, Anima, yaitu Sang Hyang Widi bersifat kecil, sekecil-kecilnya. Laghima, Sang Hyang Widi bersifat ringan, seringan-ringannya. Mahima, Sang Hyang Widi Mahabesar. Prapri, Sang Hyang Widi dapat mencapai segala-galanya. Prakamnya, Sang Hyang Widi dapat mencapai segala yang dikehendaki. Istiwa, Sang Hyang Widi merajai segalanya, dan  Yatrakamawasayitwa, Sang Hyang Widi memiliki sifat Wyapiwyapaka.  Lebih lanjut dijelaskan, Pancak Sudhamala biasanya digunakan sebagai pelengkap upakara. Pada Upacara Dewa-Dewi (Siwagotra-Siwagotri) yang di taruh pada Sanggah Surya. Selain itu, Klakat ini juga digunakan sebagai pelengkap pada Upacara Nyekah Neseng.  Klakat Pancak maupun Klakat Sudhamala, lanjutnya, merupakan sarana upakara yang dibuat berdasarkan konsep Purusa dan Prakerti dengan kemahakuasaan sebagai Cadhu Sakti dan Asta Aiswarya. “Kedua jenis Klakat ini banyak digunakan pada perlengkapan upacara Manusa Yadnya, Pitra Yadnya,  dan Bhuta Yadnya.” Sumber : https://www.jawapos.com/baliexpress/read/2017/09/10/12753/klakat-simbolik-kesaktian-dan-kemahamuliaan-tuhan diunduh Pebruari 2018

Pembelajaran Pendidikan Agam Hindu

Model Pembelajaran : Crossword Puzzel Atau Teka-Teki Silang Pada Pembelajaran Agama Hindu

Peserta Didik sedang mengerjakan Teka-teki silan

Dalam bahasa Indonesia, Crossword Puzzle adalah Teka-Teki Silang (TTS). Dalam TTS disediakan sejumlah pertanyaan, pertanyaan atau kata/frase sebagai kunci untuk mengisi serangkaian kotak-kotak kosong yang didesain sedemikian rupa. Deskripsi umum permainan Crossword Puzzle menurut Rinaldi Munir (2005) (http://www.cse.ohio.html) merup

akan suatu permainan dengan tempelate yang berbentuk segi empat yang terdiri dari kotak-kotak yang berwana hitam putih, serta dilengkapi 2 lajur, yaitu mendatar (kumpulan kotak yang berbentuk satu baris dan beberapa kolom) dan menurun (kumpulan kotak satu kolom dan beberapa baris).

Crossword puzzle, melibatkan partisipasi peserta didik aktif sejak kegiatan pembelajaran dimulai. Peserta didik diajak untuk turut serta dalam semua proses pembelajaran, tidak hanya mental akan tetapi juga melibatkan fisik. Dengan ini peserta didik akan merasakan suasana yang lebih menyenangkan sehingga hasil belajar dapat dimaksimalkan.

Selain itu, crossword puzzle adalah strategi pembelajaran untuk meninjau ulang (review) materi-materi yang sudah disampaikan. Peninjauan ini berguna untuk memudahkan peserta didik dalam mengingat-ingat kembali materi apa yang telah disampaikan. Sehingga, peserta didik mampu mencapai tujuan pembelajaran baik aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik.

Fungsi kegunaan dari teka teki silang itu sendiri yaitu membangun saraf-saraf otak yang memberi efek menyegarkan ingatan sehingga fungsi kerja otak kembali optimal karena otak dibiasakan untuk terus menerus belajar dengan santai. Karena belajar dengan santai inilah yang dapat membuat siswa menjadi lebih paham dan mudah masuk dalam ingatan siswa sehingga siswa tidak mudah lupa dengan materi yang sudah diajarkan.

Pembelajaran Pendidikan Agama Hindu

Peserta Didik Praktek Membuat Segehan

Peserta Didik SD Saraswati 6 Denpasar yang beragama Hindu sedang mengikuti praktek membuat segehan.

Makna Segehan

Segehan adalah tingkatan kecil / sederhana dari Upacara Bhuta Yadnya. Sedangkan tingkatan yang lebih besar lagi disebut dengan tawur. Kata segehan, berasal kata “Sega” berarti nasi jika dalam bahasa Jawa adalah sego. Oleh sebab itu, banten segehan ini isinya didominasi oleh nasi dalam berbagai bentuknya, lengkap beserta lauk pauknya. Bentuk nasinya ada berbentuk nasi cacahan (nasi tanpa diapa-apakan), kepelan (nasi dikepal), tumpeng (nasi dibentuk kerucut) kecil-kecil atau dananan.

Wujud banten segehan berupa alas taledan (daun pisang, janur), diisi nasi, beserta lauk pauknya yang sangat sederhana seperti “bawang merah, jahe, garam” dan lain-lainnya. dipergunakan juga api takep (dari dua buah sabut kelapa yang dicakupkan menyilang, sehingga membentuk tanda + atau swastika), bukan api dupa, disertai beras dan tatabuhan air, tuak, arak serta berem.

Makna Segehan

Segehan artinya “Suguh” (menyuguhkan), dalam hal ini segehan di haturkan kepada para Bhutakala agar tidak mengganggu dan  juga Ancangan Iringan Para Betara dan Betari, yang tak lain adalah akumulasi dari limbah/kotoran yang dihasilkan oleh pikiran, perkataan dan perbuatan manusia dalam kurun waktu tertentu. Dengan segehan inilah diharapkan dapat menetralisir dan menghilangkan pengaruh negative dari limbah tersebut. Segehan juga dapat dikatakan sebagai lambang harmonisnya hubungan manusia dengan semua ciptaan Tuhan (palemahan).

Segehan ini biasanya dihaturkan setiap hari. Penyajiannya diletakkan di bawah / sudut- sudut natar Merajan / Pura atau di halaman rumah dan di gerbang masuk bahkan ke perempatan jalan. Segehan dan juga Caru banyak disinggung dalam lontar Kala Tattva, lontar Bhamakertih. Dalam Susastra Smerti (Manavadharmasastra) ada disebutkan bahwa setiap kepala keluarga hendaknya melaksanakan upacara Bali (suguhan makanan kepada alam) dan menghaturkan persembahan di tempat-tempat terjadinya pembunuhan, seperti pada ulekan, pada sapu, pada kompor, pada asahan pisau, pada talenan.

Jenis-Jenis Segehan

  1. Segehan Kepel Putih

Segehan kepel putih ini adalah segehan yang paling sederhana dan biasanya seringkali di haturkan setiap hari.

  1. Segehan Putih Kuning

Sama seperti segehan putih, hanya saja salah satu nasinya diganti menjadi warna kuning.
biasanya segehan putih kuning ini di haturkan di bawah pelinggih adapun doanya sebagai berikut :

Om. Sarwa Bhuta Preta Byo Namah.

Artinya :

 Hyang widhi ijnkanlah hamba menyuguhkan sajian kepada bhuta  preta  seadanya.

  1. Segehan Kepel Warna Lima (Manca Warna)

Sama seperti segehan kepel putih, hanya saja warna nasinya menjadi 5, yaitu putih, merah, kuning, hitam dan brumbun. Dan penempatan warna memiliki tempat atau posisi yang khusus sebagi contoh ;

  • Warna Hitam menempati posisi Utara.
  • Warna Putih menempati posisi Timur.
  • Warna merah menempati posis selatan.
  • Warna kuning menempati posisi Barat.
  • Sedangkan Warna Brumbun atau kombinasi dari ke empat warna di atas menempati posisi di tengah tengah, yang bisa di katakan Brumbun tersebut sebagai Pancernya.

Segehan Manca Warna ini biasanya di letakkan pada pintu masuk pekarangan (lebuh pemeda­l)atau di perempatan jalan adapun doa dari segehan manca warna ini adalah :

Om. Sarwa Durga Prate Byo Namah.

Artinya :

Hyang Widhi Ijinkan Hamba Menyuguhkan Sajian Kepada Durga Prete Seadanya

  1. Segehan Cacahan
    Segehan ini sudah lebih sempurna karena nasinya sudah dibagi menjadi lima atau delapan tempat. sebagai alas digunakan taledan yang berisikan tujuh atau Sembilan buah tangkih.
    Kalau menggunakan 7 (tujuh) tangkih, sebagai berikut:
  • 5 tangkih untuk tempat nasi yang posisinya di timur, selatan, barat, uatara dan tengah.
  • 1 tangkih untuk tempat untuk lauk pauknya yaitu bawang, jahe dan garam.
  • 1 tangkih lagi untuk tempat base tampel, dan beras.
  • kemudian diatas disusun dengan canang genten.

Kalau menggunakan 9 (sembilan) tangkih,sebagai berikut:

  • 9 tangkih untuk tempat nasi yang posisinya di mengikuti arah mata angin.
  • 1 tangkih untuk tempat untuk lauk pauknya yaitu bawang, jahe dan garam.
  • 1 tangkih lagi untuk tempat base tampel, dan beras.
  • kemudian diatas disusun dengan canang genten.

Keempat jenis segehan diatas dapat dipergunakan setiap kajeng kliwon atau pada saat upacara–upacara kecil, artinya dibebaskan penggunaanya sesuai dengan kemampuan.

  1. Segehan Agung
    Merupakan tingkat segehan terakhir. Segehan ini biasanya dipergunakan pada saat upacara piodalan, penyineban Bhatara, budal dari pemelastian, serta menyertai upacara Bhuta Yadnya yang lebih besar lainnya. Adapun isi dari segehan agung ini adalah; alasnya ngiru/ngiu, ditengahnya ditempatkan daksina penggolan (kelapanya dikupas tapi belum dihaluskan dan masih berserabut), segehan sebanyak 11 tanding, mengelilingi daksina dengan posisi canangnya menghadap keluar, tetabuhan (tuak, arak, berem dan air), anak ayam yang masih kecil, sebelum bulu kencung ( ekornya belum tumbuh bulu yang panjang) serta api takep (api yang dibuat dengan serabut kelapa yang dibuat sedemikian rupa sehingga membentuk tanda + atau tampak dara).

Adapun tata cara saat menghaturkan segehan adalah pertama menghaturkan segehannya dulu yang berdampingan dengan api takep, kemudian buah kelapanya dipecah menjadi lima, diletakkan mengikuti arah mata angin, kemudian anak ayam diputuskan lehernya sehingga darahnya menciprat keluar dan dioleskan pada kelapa yang telah dipecahkan tadi, telor kemudian dipecahkan, di”ayabin” kemudian ditutup dengan tetabuhan. Doa dalam menghaturkan segehan ini adalah :

Om. Arwa kala perete byo namah.

Artinya :

Hyang Widhi Ijinkanlah Hamba Menyuguhkan Sajian Kepadakala Preta Seadanya.

Setiap menghaturkan segehan lalu di siram dengan tetabuhan, tetabuhan ini bisa menggunakan air putih yang bersih, atau tuak, brem, dan arak. Dengan cara mengelilingi segehan yang di haturkan. Ketoka menyiram atau menyiratkan kita ucapkan doa :

Om. Ibek Segar, Ibek Danu, Ibek Bayu, Premananing Hulun.

Artinya :

 Hyanng widhi semoga hamba di berkahi bagaikan melimpahnya air laut, air danau, dan memberi kesegaran jiwa dan batin hamba.

Unsur-unsur Segehan

Setiap unsur-unsur dari segehan sejatinya memiliki filosofi didalamnya, berikut penjelasannya:

  1. Alas dari daun / taledan kecil yang berisi tangkih di salah satu ujungnya. taledan = segi 4, melambangkan   arah mata angin.
  2. Nasi putih 2 kepal, yang melambangkan rwa bhineda
  3.  Jahe, secara imiah memiliki sifat panas. Semangat dibutuhkan oleh manusia tapi tidak boleh emosional.
  4. Bawang, memiliki sifat dingin. Manusia harus menggunakan kepala yang dingin dalam berbuat tapi tidak boleh bersifat dingin terhadap masalah-masalah sosial (cuek)
  5. Garam, memiliki PH-0 artinya bersifat netral, garam adalah sarana yang mujarab untuk menetralisir berbagai energi yang merugikan manusia (tasik pinaka panelah sahananing ngaletehin).
  6.  Di atasnya disusun canang genten.
  7. Tetabuhan Arak, Berem, Tuak, adalah sejenis alkhohol, dimana alkhohol secara ilmiah sangat efektif dapat dipakai untuk membunuh berbagai kuman/bakteri yang merugikan. Oleh kedokteran dipakai untuk mensteril alat-alat kedokteran. Metabuh pada saat masegeh adalah agar semua bakteri, Virus, kuman yang merugikan yang ada di sekitar tempat itu menjadi hilang/mati.

sumber: Buku Kumplan doa mesegeh (bhuta kala), balikar.blogspot.com

http://inputbali.com/budaya-bali/mengetahui-lebih-dalam-makna-dari-segehan diunduh  februari 2018